(Source: megalauman)
Muncul di music recommendations pada akun Last Fm. Sepertinya saya di perkenalkan secara tidak langsung oleh intensitas mendengarkan album Relive And Regret milik In Trenches. Mungkin satu tahun lalu pertama saya berkenalan dengan Mini album Illusion Over Despair. Yap, The Broderick menjadi salah satu unit Chaotic/Hardcore asal Australia yang cukup menarik. Di debut albumnya “Free To Rot, Free Of Sin”, mereka menyuguhkan nuasa yang sangat gelap. Saya langsung jatuh cinta ketika pertama mendapati video teasernya mulai di sebar.
Kabar baik datang dari Miko sekitar bulan Maret, kalau Juni mereka akan mampir ke Bandung, aaaah betapa suka cita saya menyambutnya. Dan akhirnya siang tadi saya mendapatinya langsung di lini masa twitter. Kasih dan sayang untuk Australian hardcore rules, sampai jumpa :D
[video]
[video]
Terlepas dari segala kontrofersinya, bagi saya Obscene Extreme Asia tetap memberi banyak kesan. Bukan soal DIY atau tidak DIY. Biar mereka punya definisinya sendiri. Biar juga mereka bergerak dengan caranya sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita mendefinisikan serta bergerak dengan cara yang kita yakini, sederhana.Tapi soal kejadian sore itu sudah jadi pilihan mereka, dan mau sepakat atau tidak sepakat itu pilihan kalian, tidak ada yang bisa mencap salah atau benar.
***
Minggu pagi saat mentari masih malu-malu menampakan diri, untuk pertama kali saya berangkat ke Jakarta seorang diri. Menumpang mobil travel dengan rute Bandung - Blok M, di sambung bus Trans Jakarta hingga tiba di Ragunan. Pertama kali naik bus Trans Jakarta, ternyata ga sebagus yang dibayangkan, apa mungkin kebetulan dapetnya yang jelek ? ya sudahlah hehe. Karena jalanan cukup lengang, saya tiba 1 jam lebih cepat dari yang direncanakan. Di depan gerbang masuk, sudah berjejer para penjual makanan, saya putuskan untuk sarapan. Sambil melahap nasi soto, saya banyak berbincang dengan 3 orang panitia. Katanya kemarin hujan dari sore sampai malam. Area kemah di pindahkan ke aula karena banyak tenda kemasukan air, area depan panggung berubah jadi kubangan lumpur, dan yang seru adalah ketika mereka bercerita saat Rottern Sound tampil, vokalisnya turun ke kubangan lumpur tadi.
Pukul 10.00 acara di mulai, dibuka oleh TYRANNY. Tidak terlihat 1 penonton pun saat mereka di atas panggung, kecuali saya itu pun nonton dari jauh. Biar seperti itu mereka tetap jalan. Sampai-sampai mereka melakukan jam session karena saking cueknya, habis ga ada yang nonton juga. Selanjutnya DELIRIUM TREMENS, mulai ada beberapa orang walaupun masih bisa di hitung jari. Sebagai band ke tiga, ada crossover thrashers asal Malaysia, SARJAN HASSAN dengan thrash cepat, bising, dan nuansa Hardcore/punk yang kuat. Di lagu terakhirnya mereka membawakan Raining Blood milik Slayer, cukup menghangatkan suasana. Sebelum break dzuhur, di tutup penampilan CARNIVORED. Setelahnya dibuka kembali oleh WUU. Kuartet grindcore asal Vietnam yang ternyata punya kesamaan dengan BRUTORE yang hari sebelumnya bermain juga di OEF, ya gitarisnya sama. 20 menit kemudian giliran Unit grindcore asal Korea, NAHU. Tanpa banyak bicara ini itu, duo korea ini terus bermain, entah berapa lagu mereka mainkan. Selanjutnya ada COMPULSION TO KILL dari Malaysia, ANALDICKTION dari Singapura, dan TYRANNY kembali bermain mengisi slot milik INLANDER yang urung bermain. mentang-mentang isinya panitia, mainnya double hihi. Sebelum Break Ashar, bagiannya RAJA SINGA naik panggung. Saat itu saya putuskan keluar sebentar untuk makan kelewat siang………….

“Tonight were gonna party like there’s no tomorrow,
Forget about our woes and drown our sorrows
Don’t forget about your boys when your tipping that bottle
Drunk till fuckin death yeah thats our motto” — Like There’s No Tomorrow oleh Deez Nuts
Malam kemarin saya berhasil menjadi sosok yang menyebalkan bagi diri saya sendiri, kenapa ? sudahlah tak perlu di bahas, saya sudah menggantinya dengan tenaga. Jadi, tak begitu terlihat sebagai penonton gratisan :D
Yeah, DEEZ NUTS sambangi Bandung, tepatnya di Fame Station tadi malam. Sebelumnya sempat terpikir untuk tidak hadir disana, berhubung uang yang sangat terbatas untuk ongkos jalan menuju Obscene Extreme Asia hari minggu esok, itu pun terhitung tanpa uang makan. Tak ada uang untuk beli tiket, sedih memang, tapi tidak pada akhirnya. Saya putuskan datang, tapi merangkap sebagai pekerja rental sound system dadakan.
Pertama tiba, belum terlihat gerombolan orang yang memadati lokasi acara, tak seperti yang dibayangkan. Mungkin efek curah hujan kota bandung, sudah satu minggu terakhir sering sekali turun hujan. Termasuk sore kemarin. Acara di buka oleh ALIVE. Sayang tidak sempat melihat penampilan mereka karena terlalu asik diam di luar. Di sambung oleh MODERN GUNS, unit melodic/hardcore dari Jakarta dengan musiknya yang segar. Untuk para penyuka Hundredth, Miles Away, hingga It Prevails, wajib menunggu album mereka yang rencananya akan di rilis tahun ini. Selanjutnya OUTRIGHT yang bertukar posisi dengan penampil sebelum mereka. Sudah cukup lama tak melihat penampilannya. Masih seperti biasa mereka cukup atraktif, berlarian ke kiri dan kanan panggung. Sebagai penampil ke empat ada 6 ROUNDS dari jakarta. Musik penuh breakdown, berat serta agresif yang coba di suguhkan oleh unit yang baru saja meluncurkan debut album februari lalu ini tidak begitu berpengaruh pada antusiasme penonton. Seperti sejak awal acara, tetap duduk manis dan menjauhi arena moshpit. Oh ya kemarin BILLFOLD urung turut memeriahkan pesta, tak tau kenapa.
Dan yang ditunggu tiba juga, yeah, DEEZ NUTS! Semua orang yang awalnya duduk manis dan menjauhi arena moshpit, sekarang terbalik siap untuk saling berbagi keringat. Nyanyian bersama “Tonight were gonna party like there’s no tomorrow….” mengawali penampilan 4 orang party hardcore asal Melbourne, Australia. Nomor-nomor seperti Like There’s No Tomorrow, Stay True, DTD, I Don’t Give A Mother Fuck, Shot After Shot, hingga Band of Brothers mereka mainkan. Setlist lagu malam tadi cukup untuk membuat badan di banjiri keringat. Ada sedikit kejadian unik ketika monitor yang berada disamping kiri drum mengeluarkan asap putih dan terbakar, raut muka Jon Green (Bass) langsung terlihat agak sebal.
Acara pun ditutup dengan masuknya Budrex (Under 18) yang mengambil alih mikropon dan menginformasikan tentang kehilang telepon genggam, ada 5 orang kalau tak salah dengar. Kejadian yang sangat di sayangkan memang. Di dalam keriuhan pesta, ada sekian orang yang tak begitu menimatinya karena harus kehilangan barangnya. Maka di putuskan untuk menggeledah semua orang yang hadir saat melewati pintu keluar. Namun nihil, tidak di temukan sama sekali. Jadi pelajar bersama, khususnya bagi saya untuk sebisa mungkin tidak membawa barang apa pun ke arena moshpit.
*Catatan: foto saya ambil tanpa permisi dari akun twitter @LFDY86
Malam ini sebagai obat pelipur lara, saya biarkan telinga ini mengakrabi nada-nada milik Graveyard di album Hisingen Blues yang cukup berenergi. Album yang tercatat dalam salah satu artikel di jakartabeat.net sebagai “album yang tetap layak dengar hingga beberapa tahun ke depan”. Tidak salah memang. Ah tapi bukan maksud saya untuk mengulas band/album ini, suasananya bukan untuk itu. Banyak cerita yang ingin saya bagikan sebenarnya, tapi entah harus memulainya dari mana. Begitu banyak hal yang ingin saya tumpahkan. Mengenai lingkungan kampus, sulitnya menyisihkan uang, album-album terbaru, cd/kaset incaran, gigs, band, asmara, memuainya minat baca, dan entah apalagi. Saya sendiri bingung memikir itu semua. Tapi ya sudahlah…

18/3/2013
Siang hari yang terik, di tengah kegabutan yang melanda dalam 2 minggu terakhir, di sela nonton WE BOUGHT A ZOO. Sering kepikiran ketika banyak band yang seiring waktu, mereka malah jadi ga kedengeran lagi namanya. Lumayan jadi pertanyaan besar buat saya apakah cuma segitu aja niat mereka ? apa segitu susahnya ngatur waktu dengan kesibukan yang lain ? Kenapa ? dan akhirnya saya bisa jawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu. An Oath Of Allegiance, keluarga saya yang satu ini awal bulan januari kemaren baru saja di tinggal merantau untuk beberapa lama oleh salah satu anggotanya. Cukup bikin sedih memang, cuma apa boleh kata jalan ceritanya harus kaya begitu. ketika nemu jalan keluarnya, eh cerita serupa harus keulang lagi. Susah juga kalo jalannya pincang. Baru terpikirkan ternyata sedari awal kita perlu arif dalam memanfaatkan waktu, kerasanya sih masing-masing dari kami punya kegiatan sendiri dan makin kesini makin banyak yang imbasnya susah atur waktu. Jadi ada sedikit penyesalan kenapa ketika waktu masih begitu mudah di manfaatkan, malah santai-santai tanpa kepikiran sampai keadaan yang lagi di alami sekarang. Hayalan-hayalan yang tinggi itu jadi harus di pause, di bikin strateginya dulu, dan ga lupa di sesuaikan dengan kapasitas waktu yang ada. Tapi ga ngaruh juga sih ngeluh. Pastinya harus selalu di nikmati gimana pun jalan ceritanya. Lumayan buat bagi-bagi cerita bareng temen. Yang pasti kami masih tetap jalan, cuma dengan laju yang makin santai hehe.
[video]